jump to navigation

Sejarah Teknologi Militer October 13, 2009

Posted by akuhadi in Technology.
trackback

Al-Rammah mengenalkan teknologi militer kepada dunia.

Bermula dari sebuah buku. Sejarah kemudian tertoreh. Hassan Al-Rammah, seorang sarjana Suriah di abad ke-13, mengenalkan teknologi militer berupa roket, melalui buku yang ia tulis. Ia tak hanya menuliskan buku tentang roket, tetapi juga membuat roket. Waktu pun mengalir. Pada akhirnya roket dan buku karya Al-Rammah menjadi sebuah jejak bagi pengembangan teknologi roket berikutnya. Roket pertama yang terdokumentasikan dalam bukunya, dipamerkan di National Air and Space Museum, Washington DC, Amerika Serikat (AS).

Pada September 2000, seorang ilmuwan dari Zurich, Swiss, Prof Dr Mohamed Mansour, berkunjung ke Washington, ia tak hanya mendapatkan informasi tentang pembuatan roket, tapi juga bahan bakarnya. Ia bahkan mendapatkan salinan buku Al-Rammah yang telah diedit. Dalam bukunya, Al-Rammah memang tak hanya fokus pada pembuatan roket, tapi juga memberikan gambaran mengenai penggunaan bubuk mesiu. Pada masa berikutnya, mesiu ini akan menjadi hal yang penting dalam perkembangan teknologi dan alat militer, berupa meriam.

Harus diakui, pada abad ke-11, orang-orang Cina terlebih dahulu mengenal bubuk mesiu. Namun, saat itu, mereka tak mengetahui bagaimana takaran bubuk mesiu yang tepat untuk membuat sebuah ledakan yang dahsyat. Orang-orang Cina itu tak tahu bahwa untuk mendapatkan ledakan yang hebat, diperlukan pemurnian potasium nitrat. Buku Cina pertama yang menjelaskan bagaimana cara menentukan jumlah proporsi bahan peledak yang baik, baru diterbitkan pada 1412 oleh Huo Lung Ching.

Dalam konteks ini, buku karya Al-Rammah merupakan buku pertama yang menjelaskan prosedur pemurnian potasium nitrat, untuk menghasilkan ledakan dahsyat. Ia tentu tak sembarang menulis sebab terlebih dahulu ia melakukan uji ledak takaran mesiu yang dibuatnya. Pada masa sebelumnya, yaitu abad ke-10, sarjana seperti Al-Razi dan Al-Hamdany, juga telah memberikan gambaran tentang potasium nitrat dalam pembuatan komposisi mesiu. Pada abad yang sama, tulisan mereka juga diperoleh dalam sebuah manuskrip berbahasa Arab Suriah.

Menurut seorang cendekiawan bernama Ibn Al-Bitar, pada 1240, dalam manuskrip berbahasa Arab Suriah itu diterangkan sejumlah resep pembuatan mesiu, dan salah satunya menggunakan potasium nitrat. Di sisi lain, ada pula terjemahan manuskrip tersebut. Berdasarkan catatan sejarah, buku bahasa Latin berjudul Liber Ignium karya Marcus Graecus berangka tahun 1300, merupakan terjemahan dari buku berbahasa Arab itu. Isinya, banyak tulisan mengenai resep komposisi pembuatan mesiu.

Sebenarnya, buku berbahasa Arab mengenai mesiu maupun bidang kimia banyak dipelajari orang-orang Barat. Seorang ilmuwan berkebangsaan Jerman, Albert Magnus, memperoleh informasi Liber Ignium dari buku berbahasa Arab yang telah diterjemahkan di Spanyol.
Penggunaan mesiu sebenarnya juga telah digunakan sejak lama. Salah satu bukti penggunaan mesiu terjadi pada saat Perang Salib. Bukti ini ditemukan di Fustat, Mesir, pada 1168. Ini terungkap setelah ditemukannya bekas penggunaan potasium nitrat.

Jejak-jejak penggunaan potasium nitrat juga ditemukan pada tahun 1218 selama pengepungan Dumyat dan dalam pertempuran Al-Mansoura pada 1249. Di sisi lain, sejumlah sejarawan memperkirakan orang-orang Cina kemungkinan mengenal mesiu dari para pedagang Arab. Sebab, Muslim Arab banyak melakukan penjelajahan maupun perdagangan ke luar negeri hingga ke Cina. Bahkan, orang Arab dan Cina memiliki banyak kesempatan bertemu baik di Cina maupun saat berada di luar negeri, tentu saja dalam hubungan perdagangan.

Pada awal tahun 880, diperkirakan sebanyak 120 ribu orang Muslim, Yahudi, dan Persia tinggal di Kanton. Ada empat manuskrip berbahasa Arab dikenal sebagai Almakhzoun, yang menjelaskan tentang hal tersebut. Satu manuskrip terdapat di St Petersburg, dua di Paris, Prancis dan satu lagi di Istanbul, Turki pada tahun 1320. Manuskrip tersebut menggambarkan meriam portabel dengan bubuk mesiu. Penggambaran meriam tersebut pada prinsipnya sama dengan senjata modern.

Meriam telah digunakan dalam banyak pertempuran, seperti pertempuran Ain-Galout, yang terkenal dalam melawan invasi Mongol pada tahun 1260. Dinasti Mamluk telah mengembangkan kanon lebih lanjut pada abad ke-14. Para tentara Arab juga telah menggunakan meriam. Mereka menggunakan senjata itu untuk melindungi kota-kota di Spanyol, seperti Sevilla pada 1248, Granada pada 1319, Baza atau Albacete pada 1324, Martos dan Huescar pada 1325, Alicante pada 1331, dan Algeziras antara 1342-1344.

Dapat disimpulkan, sejarah artileri di Spanyol terkait dengan orang-orang Arab. Pada masa pertengahan, orang-orang Arab juga memperkenalkan senjata api ke Spanyol. Kemudian, senjata tersebut dikenal di Italia, Prancis, dan akhirnya sampai ke Jerman. Selain penggunaan bubuk mesiu yang terus berkembang, Al-Rammah juga menguraikan berbagai cara membuat panah dan tombak api. Ia memberikan gambaran pula mengenai sebuah teknologi yang kemudian disebut dengan torpedo.

Dalam karyanya, Al-Rammah menggambarkan torpedo sebagai sebuah benda berbentuk telur yang bergerak sendiri dan terbakar. Ia menjelaskan bahwa torpedo yang ada dalam benaknya adalah sebuah torpedo yang mampu bergerak di atas permukaan air. Al-Rammah menguraikan, torpedo itu digerakkan oleh roket yang terbuat dari dua panci dipipihkan dan direkatkan. Di dalamnya, berisi serbuk logam dan campuran serbuk mesiu. Roket ini juga dilengkapi ekor untuk memastikan torpedo bergerak lurus.

Sebuah Kronologi

Para cendekiawan Muslim pada abad ke-13 memiliki pengetahuan memadai soal teknologi militer, termasuk penggunaan bubuk mesiu untuk menggerakkan roket. Hal ini terlihat dalam buku yang ditulis Hassan Al-Rammah berjudul kitab Al-Furusiya val-Muhasab Al-Harbiya dan Niyahat Al-Su’ul val-Ummiya fi Ta’allum A’mal Al-Furusiya .

Ia menggambar sebuah torpedo digerakkan dengan sebuah roket yang berisi bahan peledak. Dokumen lain yang membahas soal militer dan peralatan milier juga ditemukan pada abad ke-14. Bagian pertama dokumen ini disebut Kitab An’q fi’manajniq yang ditulis pada 775 untuk Ibn Aranbugha Al-Zardkish, seorang komandan militer Muslim. Penulisnya tak diketahui.

Sedangkan, bagian kedua dokumen itu adalah sebuah buku yang disebut Kitab al-hiyal fi’l-hurub ve fath almada’in hifz al-durub . Buku ini berisi tentang uraian soal teknologi roket, bom, dan panah berapi yang ditulis oleh komandan Turki, Alaaddin Tayboga al-Omari al-Saki al-Meliki al-Nasir.

Seorang ilmuwan dari Turki, Lagari Hasan Celebi, juga terbang dengan menggunakan roket bersayap tujuh. Ini merupakan teknologi yang ia temukan sendiri. Dengan hasil temuannya, ia berhasil mendarat dengan aman di atas permukaan laut dengan sayap-sayap elangnya itu. Ia dikenal dalam sejarah dunia penerbangan dengan teknik roket.

Menurut situs Muslimheritage , pada masa selanjutnya, sekitar 1703, sebuah karya berjudul Ummul-Gaza yang ditulis Ali Aga memberikan gambaran mengenai pengembangan teknologi roket. Roket-roket tersebut merupakan pengembangan yang dilakukannya sebelumnya dan disebut tulumbas.

Sumber: http://republika.co.id/koran/36

%d bloggers like this: